headermask image

header image

category archive listing Category Archives: Web Blog Ikhwah

3 Orang yang Diseret ke Neraka

Pada hari kiamat nanti, dihadirkan seorang laki-laki yang mati dalam peperangan fii sabilillah (di jalan Alloh). Kemudian diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Alloh hingga ia mengakuinya. Selanjutnya ia ditanya, “Apa yang telah engkau perbuat di dunia?” Ia menjawab, “Aku telah berperang demi Engkau (Alloh) hingga aku terbunuh.”
Alloh berkata, “Bohong! Engkau berperang bukan karena Aku, tapi supaya engkau disebut pahlawan. Kini gelar itu telah engkau peroleh.” Lalu orang itu diseret ke neraka dengan wajah tersungkur.

Kemudian didatangkan orang yang kedua, yaitu seorang laki-laki yang sering membaca Al Qur’an, rajin menuntut ilmu, dan senantiasa mengajarkan pengetahuannya kepada orang lain. Lalu dia ditanya, “Apa yang telah engkau kerjakan (selama hidup di dunia)?” Dia menjawab, “Aku mempelajari berbagai ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain, dan aku juga sering membaca Al Qur’an karena-Mu.”
Alloh menjawab, “Bohong! Engkau belajar dan mengajar bukan karena-Aku. Bacaan Al Qur’anmu juga bukan karena-Aku. Engkau belajar dan mengajar agar dikatakan pintar dan ‘alim. Kini sebutan itu telah engkau peroleh. Bacaan Al Qur’anmu juga bukan karena-Aku, tetapi agar engkau diberi gelar Qori’. Itu telah engkau raih.” Akhirnya ia juga diseret ke neraka dengan wajah tersungkur. 
Kemudian dihadirkan orang ketiga. Yaitu laki-laki yang diberi kelapangan hidup dan berbagai jenis harta kekayaan. Kemudian diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Alloh hingga ia mengakuinya. Lantas ia ditanya, “Apa yang telah engkau lakukan?” “Aku telah menginfakkan seluruh hartaku di jalan yang Engkau sukai dan semuanya karena-Mu.” Jawabnya. Alloh berkata, “Bohong! Engkau melakukan itu agar dikatakan dermawan. Dan itu telah engkau peroleh.” Akhirnya, dengan wajah tersungkur dia juga diseret ke neraka. 
(Sumber: Hadits Abu Hurairah Riwayat Muslim No. 1905). 

Itulah akibat dari amalan yang tidak ikhlas, pelakunya tidak mendapat manfaat dari amalannya bahkan mendapat adzab yang sangat pedih. 

Oleh karena itu, hendaknya kita menjaga amal kita agar selalu ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. 

Diambil dari buku Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim karya Ummu Usamah ‘Aliyyah dan Ummu Mu’adz Rofi’ah. Penerbit Darul Ilmi Yogyakarta. 

Ujian Bagi Si Belang, Si Botak, dan Si Buta

Dahulu, hidup tiga orang dari Bani Israil. Mereka adalah si Belang (karena sakit lepra), si Botak, dan si Buta. Alloh ingin menguji mereka. 
Maka diutuslah malaikat dalam wujud manusia. Malaikat itu datang kepada si Belang dan bertanya, “Apa yang paling engkau inginkan?”
Si Belang menjawab, “Kulit yang bagus, rupa yang indah, serta hilang penyakit yang menyebabkan orang-orang jijik kepadaku.” Maka malaikat itu mengusap di Belang. Seketika itu hilanglah penyakitnya, berganti dengan rupa yang indah dan kulit yang bagus.
Kemudian malaikat itu bertanya lagi, “Harta apakah yang paling engkau sukai?” Ia menjawab, “Unta.” Maka si Belang diberi seekor unta yang sedang bunting, sambil didoakan, “Barokallohu laka fiiha.” (Semoga Alloh memberkahinya untukmu). 
Kemudian malaikat itu datang kepada si Botak. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang paling engkau inginkan?” Si Botak menjawab, “Rambut yang bagus serta hilang penyakit yang menyebabkan aku dihina di hadapan manusia.”
Malaikat itu lalu mengusap si Botak, Seketika itu tumbuhlah rambut yang bagus. Lalu si Botak ditanya lagi, “Harta apakah yang paling engkau sukai?” “Sapi.” Jawabnya. Maka si Botak diberi seekor sapi yang sedang bunting sambil didoakan. “Barokallohu laka fiiha.”
Akhirnya, malaikat itu sampai kepada si Buta. Ia menanyakan hal yang sama kepada si Buta, seperti pertanyaan kepda si Belang dan si Botak. Si Buta menjawab, “Aku ingin agar Alloh mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.”
Malaikat itu lalu mengusap si Buta sehingga ia dapat melihat kembali. Dan ia menginginkan kambing, dan ia diberi kambing yang sedang bunting. 
Lama kelamaan, unta, sapi, dan kambing itu berkembang biak memenuhi tempatnya masing-masing. Datanglah malaikat tadi kepada si Belang dalam bentuk seorang miskin, seperti keadaan si Belang dahulu. Malaikat itu berkata, “Aku seorang yang miskin. Aku kehabisan bekal dalam perjalanan. Aku tidak dapat melanjutkan perjalanan hari ini kecuali dengan pertolongan Alloh kemudian bantuanmu. Maka dengan nama Alloh yang telah memberimu rupa yang indah, kulit yang bagus serta harta kekayaan, aku meminta seekor unta saja untuk meneruskan perjalananku.”
Si Belang berkata, “Hak-hak yang harus kuberi masih banyak.” Malaikat itu lantas berkata, “Sepertinya aku pernah mengenalmu. Bukankah engkau dulu adalah orang yang sakit belang dan manusia jijik kepadamu? Dan bukankah engkau dahulu seorang yang miskin kemudian Alloh memberimu kekayaan?”
Si Belang menjawab, “Sesungguhnya aku mendapatkannya dari nenek moyangku.” Malaikat itu berkata lagi, “Jika engkau berdusta, semoga Alloh menjadikanmu seperti semula!”
Demikian pula kesombongan si Botak ketika malaikat itu mendatanginya. Dia menjawab seperti jawaban si Belang. Sehingga dia didoanak juga seperti si Belang. 
Akhirnya, malaikat itu sampai ke tempat si Buta. Dia juga menyerupai keadaan si Buta dulu. Malaikat itu berkata seperti perkataannya kepada si Belang dan si Botak. Si Buta berkata, “Aku dulu adalah orang yang buta, kemudian Alloh mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang kau inginkan dan tinggalkan apa yang tidak kau sukai! Demi Alloh, sekarang aku tidak ingin menyulitkanmu sebab sesuatu yang engkau ambil karena Alloh.”
Malaikat itu berkata, “Peliharalah harta kekayaanmu! Sebenarnya engkau hanya diuji. Allah benar-benar ridha terhadapmu. Dan Alloh telah murka kepada kedua temanmu.”
(Diceritakan kembali dari Hadits Abu Hurairah riwayat Al Bukhari No. 3277 dan Muslim No. 2964)
Diambil dari buku Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim karya Ummu Usamah ‘Aliyyah dan Ummu Mu’adz Rofi’ah. Penerbit Darul Ilmi Yogyakarta. 

Pasukan Khondak dan Periuk Makanan

Khondaq adalah parit yang dalam danlebar. Parit itu digali di sekeliling kota Madinah agar musuh terhalang untuk masuk. Cara perang dengan menggali parit ini dilakukan atas usulan Salman Al Farisi. Karena itulah perang melawan orang Musyrikin Quraisy dan sekutunya dinamakan perang Khondaq. 
Tersebutlah kisah, dari Jabir bin ‘Abdillah. Ia menggali parit bersama para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Mereka saling bantu menggali parit itu, meski dalam keadaan lapar sekalipun. Pada suatu waktu, Jabir bin Abdillah dan sahabat lainnya mendapatkan tanah yang keras sekali. Mereka tidak bisa menggalinya.

Kemudian para sahabat datang kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata, “Ini tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali sebagai parit. “ Maka Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Aku yang akan menggalinya.” Lantas beliau bangkit, sementara saat itu perutnya diikat dan diganjal batu karena sudah 3 hari tidak makan makanan sama sekali. Lalu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam mengambil cangkul dan mengayunkannya. Maka hancurlah tanah keras itu hingga menjadi pasir yang berhamburan.

Melihat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam sangat lapar, Jabir bin ‘Abdillah meminta izin untuk pulang. Sesampainya di rumah, ia bertanya kepada istrinya, “Aku melihat Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam sangat lapar, apakah kamu mempunyai makanan?” Istrinya menjawab, “Ada sedikit gandum dan seekor anak kambing betina.”

Maka  Jabir bin ‘Abdillah segera menyembelih anak kambing itu dan memotong-motong dagingnya. Kemudian daging anak kambing itu dimasukkan ke dalam periuk dari batu. Setelah itu Jabir menumbuk gandum dan dijadikan adonan roti. Lalu adonan roti itu pun dimasak ke dalam perapian. Ketika makanan itu hampir matang, Jabir kembali kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata, “Wahai Rosululloh, aku mempunyai sedikit makanan. Maka datanglah bersama satu atau dua orang saja.”

Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam lalu bertanya, “Berapa banyak makanan itu?” Jabir menjawab seperti yang ia masak.

Kemudian beliau bersabda, “Cukup banyak lagi baik. Katakan pada istrimu jangan mengangkat periuk dan roti itu dari perapian hingga aku datang!”

Beliau lalu bersabda kepada para sahabat, “Wahai para sahabatku, bangkitlah! Mari ikut bersamaku.” Maka para sahabat Muhajirin dan Anshar datang ke rumah  Jabir bin ‘Abdillah.

Mengetahui yang datang ke rumahnya sangat banyak, Jabir merasa khawatir karena masakannya tidak mencukupi untuk semua pasukan Khondaq. Ia segera menemui istrinya dan berkata, “Celaka! Rosululloh datang bersama sahabatnya Muhajirin dan Anshar.”

“Apakah Rosululloh telah menanyakan banyaknya makanan yang kita siapkan?” tanya Istrinya. “Ya.” jawab  Jabir bin ‘Abdillah.

Tibalah Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersama para sahabat ke rumah Jabir. Beliau bersabda kepada para sahabat, “Masuklah kalian dan jangan berdesak-desakan!”

Beliau kemudian memotong roti dan meletakkans sepotong daging padanya. Beliau menutup kembali periuk dan tempat perapian roti setiap kali selesai mengambil daging dan roti. Lalu beliau menghidangkannya kepada para sahabatnya dan berlalu.

Demikianlah hal itu dilakukan oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam berulang-ulang hingga para sahabat merasa kenyang. Setelah merasan kenyang, kembalilah mereka ke tempat penggalian parit. Jumlah mereka waktu itu 1.000 orang. Sedangkan dalam periuk masih tersisa masakan seperti semula. Begitu pula roti yang tersisa masih seperti semula.

Kemudian Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda kepada istri  Jabir bin ‘Abdillah, “Makanlah kamu dan bagi-bagikan kepada orang-orang, karena mereka sedang ditimpa kelaparan!”

(Diceritakan kembali dari Hadits  Jabir bin ‘Abdillah riwayat Al Bukhari No. 3875-3876 dan Muslim No. 2039).

Diambil dari buku Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim. Ummu Usamah ‘Aliyyah dan Ummu Mu’adz Rofi’ah. Penerbit Darul Ilmi Yogyakarta.

Kajian Intensif di Bulan Ramadhan

Berikut adalah kajian intesif di bulan ramadhan bersama : – Ustadz Abu ‘Ubaidah Syafruddin, “Fiqih Puasa, Tarawih & I’tikaf“ – Ust ‘Abdulloh Nahar, “Tafsir Surat Al Fatihah“ – Ust ‘Abdurrahman Wonosar, “Menjaga Kemurnian Ikhlas“ – Ust ‘Abdul Haq, “Jalan Taubat Kepada Alloh“ Berikut link untuk mendowload kajiannya : [Download Kitab] Untuk mendownload, dengan meng-klik kiri [...]

AL IMAM AHMAD BIN HANBAL, Tauladan dalam Semangat dan Kesabaran

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Ahmad bin Hanbal adalah seorang tauladan dalam 8 hal: tauladan dalam bidang hadits, fiqih, bahasa arab, Al-Qur’an, kefakiran, zuhud, wara’ dan dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam. Kunyah dan Nama Lengkap beliau rahimahullah Beliau adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris [...]

Syaithan Pencuri Zakat

Pada suatu hari, Abu Hurairah ditugaskan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam untuk menjaga zakat Ramadhan atau yang dikenal dengan Zakat Fitrah. 
Hingga pada suatu malam, ada seseorang yang mengendap-endap mencuri segenggam makanan dari zakat tersebut. Maka Abu Hurairah segera menangkapnya seraya mengancam, “Demi Alloh, sungguh akan aku bawa kau kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam!”
Orang itu menjawab, “Sesungguhnya aku adalah orang yang sangat membutuhkan, karena aku mempunyai tanggungan keluarga.” 
Mendengar itu, Abu Hurairah akhirnya melepaskan orang tersebut.

Keesokan harinya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya kepada Abu Hurairah, “Apa yang diperbuat oleh tawananmu semalam?”

Jawab Abu Hurairah, “Ya Rosululloh, ia mengatakan sangat butuh, karena mempunyai tanggungan keluarga. Maka aku merasa kasihan, lalu kubiarkan dia pergi.”
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya orang itu membohongimu. Ia pasti akan kembali lagi.”
Berita dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pastilah benar. Ternyata pada malam harinya pencuri itu kembali beraksi. Orang itu mengambil segenggam makanan. Abu Hurairah mengintainya dan segera menangkapnya. Abu Hurairah mengancam lagi, “Sungguh, akan aku bawa kau kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alahi Wa Sallam!”
Orang itu beralasan seperti sebelumnya, dan ia berjanji tidak akan mengulanginya. Akhirnya Abu Hurairah kembali melepaskannya karena kasihan. Keesokan harinya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam kembali bertanya kepada Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah apa yang diperbuat oleh tawananmu semalam?” Kembali Abu Hurairah menjawab seperti sebelumnya.
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya ia dusta dan ia akan kembali padamu.”
Untuk ketiga kalinya Abu Hurairah mengintainya, dan memang benar orang itu datang kembali lalu mengambil segenggam makanan dari zakat. Segera Abu Hurairah menangkapnya seraya berkata, “Sungguh, akan aku bawa kau kepada Rosululloh. Ini sudah yang ketiga kalinya. Kau katakan tidak akan kembali lagi, akan tetapi ternyata kembali lagi.”
Orang itu berkata, “Lepaskanlah aku! Nanti aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang Alloh akan memberimu manfaat bila engkau membacanya.”
Abu Hurairah lantas bertanya, “Apa kalimat itu?” 
Jawabnya, “Apabila engkau hendak tidur bacalah ayat kursi (Al Baqarah: 255). Maka Alloh akan senantiasa menjagamu, sedang syaithan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” Setelah itu dibiarkannya orang itu pergi. 
Keesokan harinya, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat tawananmu semalam?”
Abu Hurairah menjawab, “Ya Rosululloh, dia mengajarkanku beberapa kalimat yang katanya Alloh akan memberikan manfaat bila seseorang membacanya. Karena itu aku melepaskannya.”
Beliau bertanya, “Kalimat apakah itu?”
Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan kepadaku apabila engkau hendak tidur bacalah ayat kursi dari awal hingga akhir. Engkau akan senantiasa dalam penjagaan Alloh dan syaithan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya kali ini ia benar. Padahal ia sangat pendusta. Wahai Abu Hurairah, tahukah engkau dengan siapa engkau bercakap-cakap selama tiga malam berturut-turut?”
Abu Hurairah menjawab, “Tidak.”
Rosululloh Shollallohu ‘Alahi Wa Sallam bersabda, “Dia adalah syaithan.”
(Diceritakan kembali dari Hadits Riwayat Al Bukhari No. 2187, 3101, 4723)
Diambil dari buku Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim. Ummu Usamah ‘Aliyyah dan Ummu Mu’adz Rofi’ah. Penerbit Darul Ilmi Yogyakarta. 

Rasa Lapar Abu Hurairah

Abu Hurairah adalah sahabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam yang sangat miskin. Akan tetapi, Abu Hurairah amat banyak ilmunya dan kuat hafalannya. Dia sering mengalami kelaparan. Sampai-sampai adakalanya ia harus menahan perutnya ke tanah. Bahkan terkadang, ia harus mengganjal perutnya dengan batu karena lapar. 
Pada suatu hari, ketika Abu Hurairah sedang duduk di jalan, Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam melewatinya dan tersenyum melihatnya. Beliau sangat mengerti akan penderitaan Abu Hurairah. Berkata Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam: “Wahai Aba Hirr!” 
Abu Hurairah menjawab, “Labbaika ya Rosululloh.” (Aku datang memenuhi panggilanmu wahai Rosululloh). 
Beliau berkata, “Ikutilah aku!”  
Maka Abu Hurairah mengikuti Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam sampai ke rumahnya. Kemudian beliau mengizinkannya masuk. Di sana Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam menemukan segelas susu. 

Beliau lantas bertanya kepada istrinya, “Dari mana susu ini?” 

Istri beliau menjawab, “Dari Fulan, ia menghadiahkannya untukmu.” 
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian memanggil Abu Hurairah, “Wahai Aba Hirr!”
“Labbaika ya Rosululloh!” Jawabnya. 
“Pergilah dan panggil Ahlushshuffah.” 
Ahlushshuffah adalah sekumpulan sahabat yang tinggal di masjid Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam karena tidak punya harta dan keluarga. Abu Hurairah merasa berhak mendapatkan seteguk lebih dahulu agar kekuatannya yang hilang bisa kembali. Dan nanti, jika Ahlushshuffah datang tentu Abu Hurairah yang akan melayani mereka. Ia khawatir jika tidak kebagian. 
Namun Abu Hurairah tidak mau menentang perintah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka Abu Hurairah segera memanggil Ahlushshuffah. Meskipun datang ke rumah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Rosululloh lalu memanggil Abu Hurairah, “Ya Aba Hirr!” 
“Labbaika Ya Rosululloh.” 
“Terimalah (susu) ini dan bagikan kepada mereka!”
Maka Abu Hurairah memberikan gelas berisi susu itu kepada orang pertama. Orang itu meminumnya sampai puas. Kemudian gelas tersebut dikembalikan kepada Abu Hurairah. Lalu ia diberikan lagi kepada orang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya hingga semua merasa puas. Sungguh menakjubkan! 
Gelas itu diterima kembali oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Beliau kemudian tersenyum pada Abu Hurairah dan berkata, 
“Ya Aba Hirr!” 
“Labbaika Ya Rosululloh” jawab Abu Hurairah. 
“Sekarang tinggal aku dan kamu.” 
“Benar Ya Rosululloh.” 
“Duduklah dan minum!” Maka Abu Hurairah duduk dan minum. 
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam terus memerintahkan minum sampai Abu Hurairah berkata, “Demi Alloh yang mengutusmu dengan kebenaran, sudah tidak ada tempat lagi dalam perutku.”
Kemudian Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Berikan kepadaku gelas itu!”
Beliau lalu memuji Alloh dan bersyukur lalu membaca “Bismillah” dan meminum sisa susu itu.
(Diceritakan kembali dari Hadits Abu Hurairah riwayat Al Bukhari No. 6087).

Demikianlah barokah yang Alloh berikan kepada mereka. Dengan kesholihan dan ketaatan mereka kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, maka Alloh jadikan segelas susu cukup dan membuat mereka kenyang. 

Sumber: Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim. Umu Usamah ‘Aliyyah dan Ummu Mu’adz Rofi’ah. Penerbit Darul Ilmi Yogyakarta. 

Mengenal Najis

Kamu pasti pernah melihat adik kecil pipis di kasur atau buang air di celana. Sebenarnya, pipis dan buang air itu najis lho! Apa sih najis itu? Mungkin kamu akan bertanya demikian. Najis adalah sesuatu yang dianggap kotor oleh orang yang berakal sehat. Mereka berhati-hati dari najis itu dan mencucinya kalau terkena pakaian atau membersihkannya bila ada pada lantai dan lainnya. 
Tapi bukan cuma pipis dan kotoran manusia saja yang dikatakan najis. Di sana juga ada hal-hal lain yang digolongkan najis, seperti bangkai hewan, darah haid dan nifas serta wadiy. Adapun bangkai manusia atau orang yang sudah meninggal bukanlah najis. Begitupula bangkai hewan laut, karena Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda tentang laut:

“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”

(HR. Abu Dawud no. 83, dishahihkan oleh Imam Al Albani).
Demikian juga hewan-hewan yang tidak keluar darahnya kalau dibunuh atau terluka, seperti belalang, lalat dan selainnya. Demikian sedikit penjelasan tentang najis, mudah-mudahan kamu paham. 
Eh, ada pertanyaan nih, kalau ingus najis nggak? Jawabannya, ingus itu tidak najis. Demikian pula kotoran ayam atau kotoran cicak. Tapi, walaupun bukan najis tetap harus dibersihkan, karena semua itu adalah kotoran. Oiya, kalau kamu lagi gendong adik kecil yang masih bayi, tiba-tiba dia pipis dan kena bajumu, bagaimana cara membersihkannya?
  1. Kalau adik bayimu itu laki-laki dan cuma minum air susu ummi serta belum makan makanan yang lain, maka pipisnya dibersihkan dengan cara dituangkan air pada bagian yang terkena pipis tersebut, tanpa harus dikucek dan tanpa dicuci. 
  2. Tapi kalau adik bayimu itu makan makanan lain seperti bubur atau biskuit, maka bekas pipisnya itu harus dicuci. Begitu juga kalau adik bayimu itu perempuan, bekas pipisnya harus dicuci walaupun ia hanya minum air susu ummi. 
Nah, sekarang kamu sudah tahu sebagian najis-najis yang ada. Maka mulai sekarang kamu harus berhati-hati dari najis-najis itu dan membersihkannya, apalagi kalau kamu mau sholat, pakaian dan tempat sholatmu harus bersih dari najis. 
Sumber: Majalah Anak Islam Mumtaz, Edisi 1, No.1/2007M. 

Kapankah Seseorang Dikatakan Alim??

oleh: Khatib Al Baghdadi rohimahullohu.
Abu Sa’id Muhammad bin Musa Ash Shirafi mengabarkan kepada kami, Abu Al Abbas Muhammad bin Ya’qub Al Asham memberitahukan kami, Yahya bin Abu Thalib memberitahukan kami, Abdul Wahhab bin Atha’ memberitahu kami, HAsyim Ad Dastawa’i memberitahu kami dari Badr, dari Sulaiman (qadhi/hakim Umar bin Abdul Aziz), ia berkata: Abu Ad Darda’ berkata:
“Kamu tidak akan menjadi orang yang alim sampai kamu menjadi pelajar, dan kamu tidak akan menjadi orang yang mengetahui ilmu sampai kamu mengamalkannya.”
Faidah yang bisa kita ambil:
  1. Tahapan awal bagi orang alim adalah menjadi pelajar. Pada tahap ini dia belum bisa dikatakan alim karena dia masih dalam tahap menuntut ilmu. 
  2. Seorang alim dituntut (bahkan diwajibkan) untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.
Wallohu A’lam Bi Showab. 
Sumber: Ilmu dan Amal: Telaah Kritis Hadits-Hadits Tentang Kewajiban Mengamalkan Ilmu dan Ancaman Bagi yang Mengabaikannya. Penerbit Najla Press Jakarta. 

Beramal Tanpa Ilmu

oleh: Al Khathib Al Baghdadi rohimahullohu. 
Muhammad bin Ahmad bin Zarqawih mengabarkan kepada kami, Utsman bin Ahmad Ad Daqqaq memberitahukan kami, Hanbal bin Ishaq meriwayatkan kepada kami, Sulaiman bin Ahmad Al Wasithi meriwayatkan kepada kami, Al Walid bin Muslim memberitahukan kami, Al Qasim bin Hazzan meriwayatkan kepadaku, ia mendengar Az Zuhri berkata:
“Sungguh orang-orang tidak akan pernah ridha pada ucapan seorang alim yang tidak mengamalkan (ilmunya), juga orang yang beramal tanpa ilmu.”
Faidah yang bisa kita ambil:
  1. Kedudukan orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dengan orang yang beramal tanpa ilmu adalah sama. 
  2. Bahaya dan peringatan atas orang yang tidak mengamalkan ilmunya
Wallohu A’lam bi Showab. 
Sumber: Ilmu dan Amal: Telaah Kritis hadits-hadits tentang Kewajiban Mengamalkan Ilmu dan Ancaman Bagi yang Mengabaikannya. Khatib Al Baghdadi. Penerbit Najla Press Jakarta. 

Orang yang Tidak Tahu dan Ulama yang Tidak Mengamalkan Ilmunya

oleh: Khathib Al Baghdadi rohimahullohu. 
Abu Al Husain Muhammad bin Al Husain bin Muhammad bin Al Fadhal Al Qaththan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Kami diberitahu oleh Abu Muhammad Abdullah bin Ja’far bin Durustuwaih An Nahwi, Ya’qub bin Sufyan meriwayatkan kepada kami, Abdurrahman bin Ibrahim meriwayatkan kepada kami, Al Walid meriwayatkan kepada kami, Al Qasim bin Hazzan meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Az Zuhri berkata:

“Tidak dicatat bagi manusia amalan seseorang yang tidak tahu, dan tidak diridhai pula ucapan seorang alim yang tidak mengamalkan(nya).”

Atsar di atas memiliki dua buah faidah yakni:
  1. Syari’at tidak berlaku bagi orang yang tidak tahu. 
  2. Seorang yang alim tidak akan diridhai jika ia tidak mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari.
Wallohu A’lam bi Showab

Empat Perkara di Hari Kiamat

oleh: Al Imam Khathib Al Baghdadi rohimahullohu.

Al Qadhi Abu Bakar Ahmad bin Al Hasan bin Ahmad Al Harsya An Naisaburi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Al Abbas bin Ya’qub Al Asham mengabarkan, dia berkata: Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani mengabarkan kepada kami Al Aswad bin Amir, dia berkata: Abu Bakar bin Ayyasy mengabarkan kepada kami dari Abu Barzah Al Aslami, ia berkata, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Tidak akan melangkah kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ia ditanya empat (perkara): tentang umurnya, kemana ia mengabiskannya; tentang ilmunya, apa saja yang telah ia amalkan; tentang hartanya, darimana ia memperolehnya dan kemana ia membelanjakannya; serta tentang badannya, kemana ia melangkahkannya.”

(HR. Ad Darimi dan At Tirmidzi)

Hadits ini mengandung faidah, antaralain:
  1. Seorang hamba akan dimintai pertanggung jawaban atas umurnya, ilmunya, hartanya dan badannya. 
  2. Ilmu dan amal adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Jika ilmu yang dipelajari itu tidak diamalkan maka itu diibaratkan seperti sayur tanpa garam yang rasanya hambar atau bisa jadi seperti rangkaian gerbong kereta tanpa ada penggerak (baik lokomotif maupun pantograf). 
  3. Demikian halnya dengan harta yang kita belanjakan, itupun akan dimintai pertanggung jawaban. Apakah kita membelanjakan sesuatu yang bermanfaat ataukah sebaliknya justru kita membelanjakannya untuk sesuatu hal yang sia-sia atau tidak ada manfaatnya sama sekali. 
  4. Langkah kita pun akan dimintai pertanggung jawaban. Apakah kita melangkahkan badan kita untuk beribadah kepada Alloh Ta’ala di rumah-rumah-Nya (masjid), menuju majelis-majelis ilmu, maupun untuk mencari nafkah. Ataukah kita melangkahkan diri kita menuju kebinasaan, yakni ke tempat-tempat maksiat. 
Wallohu Musta’an. 
Maraji: Ilmu dan Amal: Telaah Kritis Hadits-hadits tentang Kewajiban Mengamalkan Ilmu dan Ancaman Bagi yang Mengabaikannya. Penerbit Najla Press Jakarta. 

Mendahulukan yang Kanan Ketika Bersuci (Thaharah)

Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Ibnu Sholih Alu Bassam hafizahullohu
Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata:

“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam suka mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, bersisir, bersuci dan dalam utusan beliau seluruhnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan keutamaan Ummahatul Mukminin (ibu-ibu kaum Mukminin) terutama ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, seorang yang hafal Al Qur’an, alim, jujur, putri dari Abu Bakar Ash Shiddiq. Mereka meriwayatkan sekian banyak ilmu untuk umat ini dari perilaku Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam terutama yang berkaitan dengan rumah tangga Beliau yang tidak diketahui orang lain kecuali penghuni rumah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. 

Di sini istri Nabi yaitu ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, mengabarkan kepada kita tentang kebiasaan yang disukai oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam yaitu selalu mendahulukan yang kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, membaringkan tubuh ketika tidur, bersuci dari hadas (kotoran/najis) dan seluruh urusan Beliau, diantaranya adalah sebagaimana disebutkan, memakai gamis, sirwal (celana), tidur, makan, minum dan semisalnya. 
Semua ini termasuk perkara untuk memperoleh kebaikan, maka dilakukan dengan memuliakan yang kanan atas yang kiri. Adapun untuk hal-hal yang kotor, sebaiknya mendahulukan yang kiri. Oleh karena itulah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam melarang cebok dan memegang kemaluan dengan tangan kanan karena tangan kanan itu untuk hal-hal yang baik, sedangkan yang kiri untuk selain itu. 
Faidah yang dapat diambil.
  1. Bahwa mendahulukan ynag kanan untuk perkara-perkara yang baik adalah lebih utama baik menurut syari’at, akal, maupun medis. An Nawawi rohimahullohu berkata, “Kaidah syari’at yang abadi adalah disukainya mendahulukan yang kanan dalam seluruh perkara yang mulia dan berhias, adapun sebaliknya maka disukai mendahulukan yang kiri (seperti keluar dari masjid, masuk kamar mandi, dll). 
  2. Menggunakan yang kiri untuk hal-hal yang kotor adalah lebih pantas menurut syari’at dan akal. 
  3. Syari’at ini datang untuk memberikan kemaslahatan, mendidik dan menjaga manusia dari hal-hal yang memudharatkan (membahayakan). 
  4. Sesungguhnya yang lebih utama ketika berwudhu adalah mendahulukan yang kanan atas yang kiri. Imam An Nawawi rohimahullohu berkata, “Para ulama sepakat bahwa mendahulukan yang kanan ketika berwudhu adalah sunnah, barangsiapa yang menyelisihinya, maka dia tidak mendapatkan keutamaan, tetapi sah wudhunya.”
Diambil dari Kitab Terjemah Taisirul Allam Syarah Umdatul Ahkam. Penerbit Cahaya Tauhid Press. 

Tanya Jawab bersama Syaikh Yahya Al Hajuri hafizahullohu tentang Fiqih Islam (8): Pembatal-Pembatal Wudhu:

Asy Syaikh hafizahullohu dalam kitab beliau  ”Mabadiul Mufidah fy at-Tauhid wa Al Fiqih wa Al-Manhaj” menjelaskan tentang pembatal-pembatal wudhu, yang terdiri dari:

1. Sesuatu yang keluar dari qubul (kemaluan) dan dubur. 
Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu:


“Tidak diterima sholat seseorang yang berhadats hingga dia berwudhu.” 

(Muttafaq ‘Alaihi)

2. Tidur lelap, dan

3. Junub. 
Dalil keduanya hadits Shafwan bin ‘Assal rodhiyallohu ‘anhu:

“Dahulu Rosululloh memerintahkan kami apabila kami dalam keadaan safar untuk tidak melepas khuf kami selama 3 hari 3 malam, kecuali dikarenakan junub, akan tetapi beliau memerintahkan untuk melepaskan khuf kami dikarenakan buang air besar, kencing dan tidur.”

(HR. At Tirmidzi dan hadits ini hasan). 

Adapun tidurnya para Nabi tidaklah membatalkan wudhu’ mereka sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya, bahwasannya Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Para nabi tidur (terpejam) mata-matanya, akan tetapi tidak tertidur hatinya>”

Hal ini merupakan kekhususan bagi mereka -semoga sholawat dan salam Alloh limpahkan kepada mereka. 

4. Memegang Kemaluan. 
Dalilnya hadits Busrah bintu Shafwan rodhiyallohu ‘anhu, bahwasannya Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang telah memegang kemaluannya maka janganlah ia sholat hingga ia berwudhu.”

Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan hadits ini hasan. Dan telah shahih dengan beberapa penguatnya dalam riwayat Imam Ahmad dan yang lainnya dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr rodhiyallohu ‘anhu bahwasannya Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Laki-laki mana saja yang telah menyentuh kemaluannya, hendaknya berwudhu’, dan wanita mana saja yang telah menyentuh kemaluannya, hendaknya berwudhu’.”


5. Makan daging onta. 
Dalilnya adalah hadits Jabir bin Samurah rodhiyallohu ‘anhu, bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam:

“Apakah kita mesti berwudhu dikarenakan makan daging onta? Rosululloh menjawab, “Ya!”"

(HR. Muslim). 

6. Murtad (keluar dari agama Islam). 
Murtad membatalkan wudhu’ dan Islam. Dalilnya firman Alloh Ta’ala:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالإيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka terhapuslah amalannya…” (QS. Al Maidah: 5). 

Faidah yang bisa diambil dari pembahasan ini:
6 Perkara yang bisa membatalkan wudhu yakni: (1). Sesuatu yang keluar dari kemaluan dan dubur (mencakup air kencing, buang air besar dan buang angin/kentut); (2). Tidur Lelap; (3). Junub; (4). Memegang Kemaluan; (5). Makan daging onta; (6). Murtad. 

Kapan Diwajibkan Berpuasa?

Seorang muslim diwajibkan untuk berpuasa apabila dia telah baligh, berakal dan mampu. Apa itu baligh? Baligh artinya telah sampai saatnya bagi seorang Muslim untuk dikenai beban syariat. Tanda baligh bagi laki-laki dan perempuan ada tiga. Apabila salah satunya telah terpenuhi, maka seseorang dikatakan telah baligh.
  1. Mencapai usia (setidaknya) 15 tahun. 
  2. Tumbuhnya bulu kemaluan. 
  3. Mengeluarkan mani. 
Khusus untuk perempuan, tanda balighnya ditampah satu lagi, yaitu mendapatkan haidh. Demikian yang diterangkan oleh Syaikh ‘Utsaimin di dalam Fatawa Ahkamus Shiyam hal. 77. 
Nah apabila seorang anak telah baligh maka ia sudah wajib untuk berpuasa. Adapun yang belum maka belum wajib untuk melaksanakannya. Namun, baik sekali apabila mulai berpuasa untuk melatih agar terbiasa apabila nantinya telah baligh. 
Diambil dari buku Ayo Puasa karya Abu ‘Umar ‘Urwah. Penerbit At Tuqa Yogyakarta.