Categories
- Ahlussunnah-bangka.com
- Ahlussunnah-jakarta.com
- Ahlussunnah.web.id
- Akhwat.or.id
- Akhwat.web.id
- Al-Atsariyyah.Com
- Al-Ilmu.biz
- Al-Ilmu.co.nr
- Al-Ilmu.com
- Al-Ilmu.info
- Al-Ilmu.net
- Al-Ilmu.org
- Al-Ilmu.us
- Alistiqomah.web.id
- Almakassari.com
- An-Nashihah.com
- An-Nashihah.net
- Artikel Islam
- Assalafy.org
- Asysyariah.com
- Darussalaf.or.id
- Darussunnah.or.id
- Islami.web.id
- Malaysia.Salafy.WS
- Mimbarsunnah.org
- Salafy.or.id
- Salafy.WS
- SalafyBpp.Com
- SyiarSunnah.Com
- Tazhimussunnah.com
- Thullabul-ilmiy.or.id
- Uncategorized
- Web Blog Ikhwah
- Website Lainnya
-
Terbaru
- Sifat Ruku’ & Sujud
- Pendaftaran Santri Baru TK Islam Darussunnah Yogyakarta 1431 H / 2010 M
- Pendaftaran Santri Baru TK Islam Darussunnah Yogyakarta 1431 H / 2010 M
- Pendaftaran Santri Baru TK Islam Darussunnah Yogyakarta 1431 H / 2010 M
- Muhadharah Taushiyah Asy-Syaikh Abdullah Al-Mar’i Al-Adni (Jakarta)
- HARAMNYA NASYID “ISLAMI” : Bolehkah Nasyid Dijadikan Alternatif Pengganti Musik? Apa Perbedaannya dengan SYA’IR Para Sahabat Nabi ketika Membangun Parit Khandaq?
- Bacaan Shalat Zuhur & Ashar
- Hukum tentang Sihir dan Perdukunan/Paranormal
- Bacaan Dalam Shalat Subuh
- MENGENAL 12 TEMPAT FAVORIT SYETAN BERGENTAYANGAN : Dimana aja..??
- Bacaan Dalam Shalat Maghrib & Isya
- Hukum Chatting (Ngobrol) Antar Lawan Jenis Via Internet
- Download Gratis Jurnal Akhwat (Versi Ebook Edisi 2)
- Download Gratis JURNAL AKHWAT (Versi E-Book Edisi 2)
- Download Gratis JURNAL AKHWAT (Versi E-Book Edisi 2)
Tags
Abu Abdillah Mahmud Abu Aqil Abu Bakrah Ahmad Abu Luqman Abu Umar Wira Abu Zaid Yulesvan Ardian dauroh donasi donasi gempa e-book fatwa Fiqh,Ibadah,Muamalah Fodkas frontpage Informasi Bermanfaat Info Siaran islam Jakarta Jawaban Pertanyaan kajian Kajian Haji Kajian Manhaj Khusus kisah rasul Kitab Al- Kitab Tauhid LIVE Menyikap Terorisme muslim muslimah problemamuslim puasa Publikasi Salafy Radio Syiar Sunnah Risalah Ramadhan sholat Sirah sirah nabawiyyah sunnah syaikh abdul malik ulama ustadz Yogyakarta zakat profesi
Lembaran Bermanfaat tuk Tabungan Akhirat: Donasi Pembangunan Madrasah
January 31, 2010 – 1:51 pm
PEMBANGUNAN TAHAP II
MADRASAH DARUSSUNNAH YOGYAKARTA
Sesungguhnya segala puji (hanyalah) bagi Allah, Kami memujiNya, kami memohon pertolongan kepadaNya, dan kami memohon [...]
Sifat Ruku’ & Sujud
March 13, 2010 – 10:41 pm
27 Rabiul Awal
Sifat Ruku’ & Sujud
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam Masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk ke dalam Masjid dan shalat, kemudian orang itu datang dan memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya kemudian bersabda: “Kembali dan ulangilah shalatmu, karena kamu belum shalat!” Orang itu kemudian mengulangi shalat dan kembali datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil memberi salam. Namun beliau kembali bersabda: “Kembali dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat!” Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali dan akhirnya, sehingga ia berkata, “Demi Dzat yang mengutus anda dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarilah aku.” Beliau pun bersabda: “Jika kamu mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah dari Al Qur’an. Kemudian rukuklah hingga benar-benar rukuk dengan tenang, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk, Setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukanlah seperti cara tersebut di seluruh shalat (rakaat) mu.” (HR. Al-Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397)
Dari Abu Humaid As Sa’idi -radhiallahu anhu- dia berkata:
أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
“Aku adalah orang yang paling hafal dengan shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Aku melihat beliau ketika bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan pundaknya. Jika beliau ruku’ maka beliau menggenggam erat kedua lututnya dan meluruskan punggungnya. Jika i’tidal maka beliau berdiri tegak hingga seluruh tulang punggungnya kembali pada tempatnya semula. Jika sujud maka beliau meletakkan tangannya dengan tidak menempelkan lengannya ke tanah dan tidak pula mendekatkannya ke badannya, dan dalam posisi sujud itu beliau menghadapkan jari-jari kakinya ke arah kiblat. Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau mengedepankan (baca: memasukkan kaki kirinya di bawah kaki kanannya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya (lantai).” (HR. Al-Bukhari no. 828 )
Dari Aisyah -radhiallahu’anha- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ { الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ
“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam selalu membuka shalatnya dengan takbir dan bacaan, ‘Alhamdulillahirabbil alamin’ (al-fatihah). Dan apabila beliau ruku maka beliau tidak terlalu menundukkan kepalanya dan tidak pula terlalu mengangkatnya, akan tetapi beliau menundukkan kepalanya di antara itu. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, maka beliau tidak bersujud hingga beliau berdiri tegak. Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud maka beliau tidak sujud kembali hingga duduk sempurna. Beliau membaca ‘tahiyyat’ pada setiap dua raka’at. Beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkkan kakinya yang kanan. Dan beliau melarang duduk seperti duduknya setan, dan beliau melarang seseorang menghamparkan kedua dzira’ sebagaimana binatang buas menghamparkannya (yakni dengan merapatkan dzira’ ke lantai). Dan beliau menutup shalatnya dengan salam.” (HR. Muslim no. 498)
Dzira’ adalah siku sampai ujung jari tengah.
Penjelasan ringkas:
Ruku’ dan sujud termasuk dari rukun-rukun shalat karena tersebut dalam hadits Abu Hurairah di atas. Para ulama menyebutkan sebuah kaidah yang sangat bermanfaat dalam masalah ini bahwa: Semua amalan yang tersebut dalam hadits Abu Hurairah di atas -yang lebih sering dinamakan hadits al-musi` shalatuh (hadits tentang orang yang jelek shalatnya)- adalah rukun dalam shalat. Karenanya barangsiapa yang meninggalkan salah satu ruku’ atau sujud baik dalam keadaan sengaja maupun lupa maka rakaat shalatnya tidak syah.
Adapun kaifiat ruku’ dan sujud yang sesuai dengan sunnah maka hendaknya membaca dengan seksama ketiga hadits di atas, wallahu a’lam.
Pendaftaran Santri Baru TK Islam Darussunnah Yogyakarta 1431 H / 2010 M
March 13, 2010 – 9:52 pm
Alhamdulillah TK Islam Darussunnah kembali membuka penerimaan santri baru pada tahun ke dua ini.
Pendaftaran Santri Baru TK Islam Darussunnah Yogyakarta 1431 H / 2010 M
March 13, 2010 – 9:48 pm
Alhamdulillah TK Islam Darussunnah kembali membuka penerimaan santri baru pada tahun ke dua ini. Insya Allah pada tahun ini kami menerima pendaftaran santri baru maksimal 10 orang anak putra atau putri usia sekitar 4 tahun untuk TK kelas A, sehingga insya Allah kegiatan belajar mengajar dapat lebih optimal.
Tahun ini kami juga
Pendaftaran Santri Baru TK Islam Darussunnah Yogyakarta 1431 H / 2010 M
March 13, 2010 – 9:46 pm
Alhamdulillah TK Islam Darussunnah kembali membuka penerimaan santri baru pada tahun ke dua ini. Insya Allah pada tahun ini kami [...]
Muhadharah Taushiyah Asy-Syaikh Abdullah Al-Mar’i Al-Adni (Jakarta)
March 13, 2010 – 11:36 am
Bismillaahi wassalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu,
Kaum Muslimin Jakarta dan sekitarnya,
Hadirilah Muhadharah Taushiyah Asy-Syaikh Abdullah Al-Mar'i Al-Adni (Ulama
Yaman)
HARAMNYA NASYID “ISLAMI” : Bolehkah Nasyid Dijadikan Alternatif Pengganti Musik? Apa Perbedaannya dengan SYA’IR Para Sahabat Nabi ketika Membangun Parit Khandaq?
March 13, 2010 – 2:57 am
Penjelasan Tentang Hukum Nasyid Didalam Syari’at Islam
Serta Fatwa Para Ulama tentang Nasyid
Akhir-akhir telah berkembang dikalangan sebagian muslimin suatu jenis hiburan yang dikenal dengan “nasyid islami”, dan dianggap sebagai alternatif pengganti lagu-lagu dan musik yang didendangkan oleh para biduan (para penyanyi-pen) dan biduanita. Masing-masing dari “tim nasyid” tersebut menggunakan berbagai macam variasi dalam menampilkan nasyidnya, ada [...]
Bacaan Shalat Zuhur & Ashar
March 12, 2010 – 8:49 am
26 Rabiul Awal
Bacaan Shalat Zuhur & Ashar
Dari Abu Said Al-Khudri -radhiallahu anhu- dia berkata:
لَقَدْ كَانَتْ صَلَاةُ الظُّهْرِ تُقَامُ فَيَذْهَبُ الذَّاهِبُ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقْضِي حَاجَتَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ ثُمَّ يَأْتِي وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى مِمَّا يُطَوِّلُهَا
“Sungguh iqamah shalat zhuhur telah dikumandangkan, lalu ada seseorang yang pergi ke Baqi’ untuk buang hajat. Setelah itu dia berwudhu kemudian dia mendatangi (shalat jama’ah) kembali, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih pada raka’at pertama, hal itu karena beliau memperpanjang bacaan padanya.” (HR. Muslim no. 454)
Dari Abu Qatadah -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِنَا فَيَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا وَكَانَ يُطَوِّلُ الرَّكْعَةَ الْأُولَى مِنْ الظُّهْرِ وَيُقَصِّرُ الثَّانِيَةَ وَكَذَلِكَ فِي الصُّبْحِ
“Rasulullah shalat mengimami kami lalu beliau membaca surah al-fatihah dan dua surah dalam shalat zhuhur dan ashar pada dua rakaat yang pertama. Dan terkadang beliau memperdengarkan (bacaan) ayatnya kepada kami. Beliau memanjangkan rakaat pertama shalat zhuhur dan memendekkan yang kedua. Dan demikian juga yang beliau lakukan dalam shalat shubuh.” (HR. Al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 451)
Maksud ‘membaca surah al-fatihah dan dua surah dalam shalat zhuhur dan ashar pada dua rakaat yang pertama’ adalah: Beliau membaca surah Al-Fatihah dan satu surah lainnya pada setiap rakaat.
Dari Jabir bin Samurah -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَفِي الْعَصْرِ نَحْوَ ذَلِكَ وَفِي الصُّبْحِ أَطْوَلَ مِنْ ذَلِكَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dalam shalat zhuhur ‘Wal-laili idza yaghsya’, dan dalam shalat ashar membaca surah semisal itu panjangnya. Semenara dalam shalat shubuh beliau membaca surah yang lebih panjang dari itu.” (HR. Muslim no. 459)
Penjelasan ringkas:
Bacaan Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam shalat zuhur dan ashar adalah dari salah satu dari surah-surah mufashshal yang panjangnya pertengahan. Beliau biasanya memanjangkan bacaan pada rakaat pertama shalat zuhur, sampai-sampai walaupun setelah iqamah ada orang yang pergi ke daerah Baqi’ untuk buang air besar lalu dia berwudhu dan kembali ke masjid, niscaya dia tidak akan masbuk satu rakaat pun. Sementara pada rakaat yang kedua, beliau membaca surah yang lebih pendek dari itu, semisal surah Al-Lail.
Hadits Abu Qatadah di atas menunjukkan bolehnya imam sekali-sekali menjahrkan satu ayat dari surah yang dia baca setelah al-fatihah, tapi tidak sering. Dan juga menunjukkan bagaimana hikmah Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam masalah panjang dan pendeknya bacaan pada kelima shalat waktu, dimana dalam semua itu beliau mempertimbangkan keadaan jamaah. Wallahu a’lam.
Hukum tentang Sihir dan Perdukunan/Paranormal
March 12, 2010 – 8:21 am
Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Hukum Sihir Dan Perdukunan.
Segala puji hanya kepunyaan Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan [...]
Bacaan Dalam Shalat Subuh
March 11, 2010 – 12:07 pm
25 Rabiul Awal
Bacaan Dalam Shalat Subuh
Allah Ta’ala berfirman:
وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Isra`: 78)
Dari Jabir bin Samurah -radhiallahu anhu- dia berkata:
إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ بِق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca pada shalat shubuh, ‘Qaf wal Qur’an al-Majid’ (surah Qaf).” (HR. Muslim no. 458)
Dari Abu Barzah Al-Aslami -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى الْمِائَةِ آيَةً
“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bisa membaca dalam shalat shubuh antara enam puluh hingga seratus ayat.” (HR. Al-Bukhari no. 508 dan Muslim no. 461)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْجُمُعَةِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ الم تَنْزِيلُ السَّجْدَةَ وَهَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنْ الدَّهْرِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat subuh membaca: “ALIF LAAM MIIM TANZIIL AS-Sajadah (Surah As-Sajadah), dan ‘HAL ATAA ‘ALAL INSAANI HIINUM MINAD DAHRI (Surah Al-Insaan).” (HR. Al-Bukhari no. 891 dan Muslim no. 879)
Dari seorang laki-laki dari Juhainah dia berkata:
أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا
“Bahwa dia telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dalam shalat subuh: “IDZA ZULZILATIL-ARDHU ZILZALAHA,” pada kedua rakaatnya.” (HR. Abu Daud no. 816 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Sifatush Shalah hal. 110)
Penjelasan ringkas:
Di antara sunnah Nabi -alaihishshalatu wassalam- dalam shalat subuh adalah memanjangkan bacaan surah di dalamnya, hal itu karena dia adalah shalat yang disaksikan oleh para malaikat. Beliau terus-menerus melakukan hal tersebut, hanya saja terkadang beliau juga membaca surah pendek, misalnya mengulangi surah Az-Zalzalah pada kedua rakaat shalat subuh.
MENGENAL 12 TEMPAT FAVORIT SYETAN BERGENTAYANGAN : Dimana aja..??
March 11, 2010 – 2:45 am
TEMPAT-TEMPAT YANG BANYAK DITEMUKAN PARA SYAITAN ?
Ditulis oleh Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah Al-Imam
Tempat-tempat yang banyak ditemukan para syaitan diantaranya :
1. Tempat peristirahatan unta.
Dalam hadits Abdullah bin Mughaffal radiyallohu ‘anhu berkata, bersabda ..Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam:
صَلُّوا فِى مَرَابِضِ الْغَنَمِ وَلاَ تُصَلُّوا فِى أَعْطَانِ الإِبِلِ فَإِنَّهَا خُلِقَتْ مِنَ الشَّيَاطِينِ
” Shalatlah kalian di [...]
Bacaan Dalam Shalat Maghrib & Isya
March 10, 2010 – 11:37 am
24 Rabiul Awal
Bacaan Dalam Shalat Maghrib & Isya
Dari Jubair bin Muth’im -radhiallahu anhu- berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِالطُّورِ فِي الْمَغْرِبِ
“Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membaca surat Ath-Thur dalam shalat Maghrib.” (HR. Al-Bukhari no. 765 dan Muslim no. 463)
Dari Jabir -radhiallahu anhu- dia berkata:
كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَأْتِي فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ فَصَلَّى لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى قَوْمَهُ فَأَمَّهُمْ فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَانْحَرَفَ رَجُلٌ فَسَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى وَحْدَهُ وَانْصَرَفَ فَقَالُوا لَهُ أَنَافَقْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا وَاللَّهِ وَلَآتِيَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَأُخْبِرَنَّهُ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا أَصْحَابُ نَوَاضِحَ نَعْمَلُ بِالنَّهَارِ وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى مَعَكَ الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُعَاذٍ فَقَالَ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ اقْرَأْ بِكَذَا وَاقْرَأْ بِكَذَا
“Biasanya Muadz shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, kemudian dia datang, lalu mengimami kaumnya. Maka pada suatu malam, dia melakukan shalat Isya’ bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, kemudian setelah itu dia mendatangi kaumnya, lalu mengimami mereka. Dalam shalatnya dia membaca surat Al-Baqarah, maka seorang laki-laki keluar dari shalatnya, kemudian shalat sendirian, lalu pergi. Maka mereka berkata kepadanya, “Apakah kamu berlaku munafik wahai fulan?” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah, aku akan mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu aku akan mengabarkan kepada beliau (perbuatan Muadz ini).” Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “’Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami para pekerja penyiram (tanaman) bekerja pada siang hari (sehingga kecapekan), dan sesungguhnya Mu’adz shalat Isya’ bersamamu, kemudian dia datang mengimami kami dengan membaca surah Al-Baqarah.” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menghadap Mu’adz seraya bersabda, “Wahai Mu’adz, apakah kamu tukang fitnah (yang membuat orang lari dari agama, pent.). Bacalah dengan surat ini dan bacalah dengan ini.” (HR. Al-Bukhari no. 664 dan Muslim no. 465)
Dalam riwayat Al-Bukhari:
فَلَوْلَا صَلَّيْتَ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى فَإِنَّهُ يُصَلِّي وَرَاءَكَ الْكَبِيرُ وَالضَّعِيفُ وَذُو الْحَاجَةِ
“Mengapa kamu tidak membaca saja surat ‘Sabbihisma rabbika’, atau dengan ‘Wasysyamsi wa dluhaahaa’ atau ‘Wallaili idzaa yaghsyaa’?” Karena yang ikut shalat di belakangmu mungkin ada orang yang lanjut usia, orang yang lemah, atau orang yang punya keperluan.”
Al-Bara’ bin Azib -radhiallahu anhu- berkata:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِشَاءِ { وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ } فَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا أَوْ قِرَاءَةً مِنْهُ
“Saya pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat shalat Isya membaca ‘WATTIINI WAZZAITUUN (surah At-Tiin) ‘. Dan belum pernah kudengar seorang pun yang lebih indah suaranya, atau bacaannya daripada beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 766 dan Muslim no. 464)
Penjelasan ringkas:
Bacaan surah Nabi -alaihishshalatu wassalam- di dalam shalatnya berbeda-beda antara satu shalat dengan shalat yang lainnya. Terkadang dalam shalat maghrib beliau membaca surah yang pendek dari surah-surah mufashshal dan terkadang beliau membaca surah mufashshal yang panjang, seperti surah Ath-Thur. Surah-surah mufashshal adalah mulai dari surah Qaf sampai An-Naas, dengan perinciang sebagai berikut: Surah Qaf sampai An-Naba` adalah thiwal al-mufashshal (surah mufashshal yang panjang), surah An-Naba` sampai Adh-Dhuha adalah awasith al-mufashshal (surah mufashshal yang pertengahan), dan surah Adh-Dhuha sampai akhir adalah qishar al-mufashshal (surah mufashshal yang pendek).
Adapun dalam shalat isya, maka beliau telah memerintahkan Muadz untuk membaca surah Al-A’la atau Adh-Dhuha atau Al-Lail, sementara beliau sendiri membaca surah At-Tiin.
Pelajaran lain dari hadits-hadits di atas:
a. Surah maghrib, isya termasuk shalat jahriyah. Karenanya para sahabat mengetahui surah yang Nabi -alaihishshalatu wassalam- baca.
b. Suatu masjid yang punya imam ratib tidak mengerjakan shalat berjamaah kecuali setelah imam ratib datang.
c. Semangat para sahabat untuk shalat di belakang Nabi -alaihishshalatu wassalam-.
d. Seorang imam ratib harus shalat lagi mengimami makmumnya walaupun dia telah shalat sebelumnya.
e. Orang yang sudah shalat wajib lalu masuk ke sebuah masjid yang tengah didirikan shalat wajib yang sama, maka hendaknya dia ikut shalat bersama mereka, dan shalat wajibnya untuk kedua kalinya ini dihukumi sebagai shalat sunnah.
f. Bolehnya orang yang shalat sunnah mengimami orang yang shalat wajib.
g. Bolehnya imam berbeda niatnya dengan makmum.
h. Bolehnya memisahkan diri dari jamaah shalat lalu shalat sendiri jika ada uzur syar’i yang membolehkan. Bahkan terkadang wajib bagi dia untuk keluar dari jamaah shalat, misalnya jika dia berhadats.
i. Harusnya mengklarifikasi sebuah perbuatan kepada pelakunya sebelum menjatuhkan hukum kepadanya, apalagi kalau hukumnya berupa pengkafiran atau menghukumi seorang itu munafik.
j. Bolehnya makmum mengadukan imam masjid kepada penguasa jika imamnya melakukan kesalahan dalam shalat.
k. Orang yang melakukan suatu amalan yang lahiriahnya jelek, hendaknya dia menyebutkan uzurnya ketika melaksanakan amalan tersebut. Agar dia tidak mendapatkan tuduhan dan celaan yang tidak pantas dia terima.
l. Dalam meluruskan kekeliruan hendaknya tidak pandang bulu, walaupun yang melakukan kekeliruan itu adalah seorang yang berilmu atau orang yang dekat dengan dirinya.
m. Ancaman yang keras bagi orang/dai yang membuat manusia lari dari dakwah ahlussunnah, baik akibat kesalahan mereka dalam menerapkan manhaj ataukah karena memang sifatnya yang keras dan kurang merahmati orang awam. Dia dinyatakan oleh Nabi -alaihishshalatu wassalam- sebagai tukan fitnah, yakni yang membuat kerusakan.
n. Bolehnya mentahdzir tanpa menasehati terlebih dahulu.
o. Di antara sikap dari: Berlemah lembut dan penuh kompromi kepada orang awam, selama tidak mengantarkan kepada perbuatan melanggar agama.
p. Harusnya dibedakan antara kesalahan manhaj dan metode dengan kesalahan penerapan. Kesalahan manhaj bisa mengeluarkan seseorang dari ahlussunnah, tapi tidak demikian dengan kesalahan penerapan.
q. Di antara sifat syariat Islam adalah: Tatkala dia melarang dari sesuatu karena suatu sebab maka dia akan menganjurkan sesuatu yang mirip dengan itu tapi tidak melanggar sunnah.
r. Yang menjadi patokan dalam ibadah adalah kualitas (ikhlas dan mutaba’ah), bukan kuantitas. Karenanya tidak selamanya orang yang bacaannya panjang itu lebih besar pahalanya daripada yang bacaannya pendek, bisa saja sebaliknya.
s. Hendaknya imam memperhatikan maslahat dan keadaan makmum dalam hal panjangnya bacaan, lamanya ruku’ dan sujud, dan seterusnya. Dan bukan hanya memandang dirinya, apakah dia sanggup mengerjakannya ataukah tidak.
t. Disunnahkan untuk memperindah suara dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur`an, selama masih dalam koridor kaidah-kaidah tajwid.
Wallahu Ta’ala A’lam, wafauqa kulli dzi ilmin alim.
Hukum Chatting (Ngobrol) Antar Lawan Jenis Via Internet
March 10, 2010 – 8:20 am
Oleh : Syaikh Nashir bin Hamd Al Fahd
Penanya: Aku adalah seorang pemuda. Aku punya hobi ngenet (main internet) dan chatting (ngobrol). Aku hampir tidak pernah chatting dengan wanita. Jika terpaksa aku chatting dengan wanita maka aku tidaklah berbicara kecuali dalam hal yang baik-baik.
Kurang dari setahun lalu ada seorang gadis yang mengajak aku chatting lalu meminta
Download Gratis Jurnal Akhwat (Versi Ebook Edisi 2)
March 9, 2010 – 7:48 pm
Alhamdulillah telah terbit Jurnal Akhwat versi e-book gratis edisi ke dua. E-Jurnal Akhwat ini bisa anda download gratis [...]
Download Gratis JURNAL AKHWAT (Versi E-Book Edisi 2)
March 9, 2010 – 12:01 pm
Alhamdulillah telah terbit Jurnal Akhwat versi e-book gratis edisi ke dua. E-Jurnal Akhwat ini bisa anda download gratis dibawah ini, boleh dan bebas disebarluaskan ulang (tanpa harus ijin dulu kepada kami), baik melalui web-web maupun email kepada siapapun yang anda inginkan agar dapat lebih bermanfaat insya Allah.
E-book ini kami luncurkan sebagai perkenalan
Download Gratis JURNAL AKHWAT (Versi E-Book Edisi 2)
March 9, 2010 – 11:53 am
Alhamdulillah telah terbit Jurnal Akhwat versi e-book gratis edisi ke dua. E-Jurnal Akhwat ini bisa anda download gratis dibawah ini, boleh dan bebas disebarluaskan ulang (tanpa harus ijin dulu kepada kami), baik melalui web-web maupun email kepada siapapun yang anda inginkan agar dapat lebih bermanfaat insya Allah.
E-book ini kami luncurkan sebagai perkenalan menjelang terbitnya Jurnal Akhwat edisi perdana (versi majalah cetak) pada akhir Maret 2010 / Rabi’utstsani 1431 H insya Allah (materi majalah berbeda dari yang versi ebook ini). Bagi yang ingin berlangganan lihat: http://akhwat.or.id/berlangganan, bagi yang ingin menjadi agen lihat: http://akhwat.or.id/keagenan.
Semoga bermanfaat, jazaakumullahu khairan.

URL DOWNLOAD :
http://akhwat.or.id/wp-content/uploads/2-jurnal-akhwat_or_id.pdf
http://akhwat.or.id/wp-content/uploads/2-jurnal-akhwat_or_id.zip
ALTERNATIF DOWNLOAD:
(insya Allah akan kami sediakan mirror download di server Darussunnah)













BlogoSquare